RSS

MANAJEMEN KESEHATAN SAPI PERAH

1966296_750441175071823_2719154165268798778_o

Pentingnya manajemen kesehatan sapi perah yang intensif untuk menjamin kelangsungan usaha ini

Kesehatan ternak merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam manajemen pemeliharaan sapi perah, karena ternak yang sehat akan memiliki produktivitas (memberikan hasil) yang optimal. Upaya penanganan kesehatan pada ternak meliputi pencegahan, pengendalian, pengobatan dan rehabilitative (pemulihan). Manajemen kesehatan mempunyai arti penting karena meningkatkan hasil usaha (baik bibit maupun susu) sehingga dengan optimalisasi produktivitas akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak.Walaupun demikian factor kesehatan sangat terkait erat dengan manajemen pakan dan pola pemeliharaan. Terjadinya penyakit pada ternak (dalam hal ini sapi perah) sangat merugikan pemilik/peternak, karena akan mengakibatkan penurunan produksi, mengurangi kesempatan berreproduksi, menambah medical cost, resiko kematian ternak, bahkan penyakit-penyakit tertentu yang dapat menular pada ternak lain dan manusia. Pemilik ternak harus selalu memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi pada sapi yang dipelihara, dan segera melaporkan pada petugas kesehatan hewan terdekat. Di samping itu peternak juga harus memperhatikan kebersihan dan sanitasi, baik ternak, kandang maupun lingkungannya, karena kebersihan erat kaitannya dalam usaha pencegahan timbulnya penyakit pada sapi. Penyediaan pakan, air minum dan kolostrum (pedet) juga harus diperhatikan agar ternak tercukupi kebutuhan nutrisinya. Adanya catatan baik data reproduksi maupun kesehatannya sangat membantu petugas untuk melakukan kontrol dan mendiagnosa apabila terjadi gangguan kesehatan pada ternak/kelompok ternak. Untuk dapat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada sapi perah, terlebih dahulu kita harus tahu keadaan yang normal dari sapi yang sehat. Adapun tanda-tanda dari sapi perah yang sehat adalah sebagai berikut :

  • Mata agak basah dan bersinar
  • Cuping hidung selalu basah
  • Bulu halus mengkilat, kulit tidak terdapat luka-luka
  • Sapi berdiri tegak pada keempat kakinya.
  • Nafsu makan dan minum baik.
  • Tenang (tidak gelisah)
  • Kotoran agak lunak.

Apabila terjadi penyimpangan dari keadaan seperti tersebut di atas, maka peternak harus segera melaporkan kepada petugas kesehatan hewan terdekat agar dapat segera dilakukan penanganan / pengobatan.

10629532_682543405194934_3550429673673268461_o

UPTD Puskeswan Kota Padang Panjang

PENCEGAHAN PENYAKIT

1. Gerak Jalan (exercise)

Gerak jalan ini diperlukan untuk sapi minimal dua kali seminggu, dilakukan (1-2) jam (pagi hari). Bagi peternak yang memiliki padang penggembalaan ternak dapat dilepaskan di padang rumput, sedangkan bila tidak punya padang penggembalaan dapat dilakukan dengan cara yang lain misalnya dibuatkan tempat exercise dimana ternak dapat dengan bebas berjalan. Excercise ini sangat bermanfaat baik untuk anak sapi, sapi laktasi dan sapi bunting. Manfaat dari gerak jalan ini antara lain :

  • Sapi tetap bugar, sehat dan otot menjadi kuat
  • Sapi mendapatkan sinar matahari
  • Kuku sapi bisa terpelihara dengan baik. Dengan gerak jalan maka peredaran darah pada kuku sapi menjadi lancar, sehingga kwalitas daripada kuku meningkat baik bentuknya maupun kesehatannya.
  • Memperlancar waktu melahirkan. Untuk sapi-sapi yang digembalakan pada umumnya tidak banyak mengalami kesulitan di dalam melahirkan, hal ini dibandingkan dengan ternak sapi perah yang dikandangkan terus menerus.

2. Memotong Kuku Sapi

Kuku sapi merupakan bagian tubuh yang sangat penting, karena dipergunakan untuk menopang tubuhnya yang berat, untuk berjalan, mempertahankan diri dari serangan lawan, untuk mencari makan dan sebagainya. Apabila kuku dalam keadaan sakit, maka akan mengganggu pergerakan daripada sapi yang bersangkutan. Besar kecilnya gangguan bergantung derajat penyakit kukunya. Untuk menjaga agar kuku tetap baik diperlukan tatalaksana yang baik antara lain, ternak dan kandangnya dibersihkan. Usahakan lantai kandang dalam keadaan kering, pemberian makan dan minum yang baik, digembalakan dan diadakan pemeriksaan kuku secara rutin dan selan jutnya dengan pemotongan kuku. Pemotongan kuku biasanya dilakukan 6 (enam) bulan sekali. Pemotongan kuku dapat dilakukan dengan mudah dan aman, Caranya :

  • Sapi yang kukunya sudah panjang difiksir lebih dahulu pada kandang penjepit,
  • Kuku sapi dibersihkan dahulu dengan air yang bersih atau dicampur dengan desinfektan, Bagian-bagian kuku yang telah mati dibersihkan dahulu dengan pisau kuku.
  • Kuku yang panjang dipotong dulu sesuai yang diperlukan mula-mula bagian depan dan samping kuku kemu dian bagian bawah (sol) usahakan jangan sampai ter jadi pendarahan.
  • Setelah dipotong, dikikir agar lebih halus dan indah.Kemudian diolesi dengan yodium tinctur,

Untuk sapi yang menderita penyakit kuku dan sudah di obati harus ditempatkan pada lantai yang kering. Jika ada penyakit atau luka-luka kuku yang berat pada tapak kaki, segera lapor pada petugas.

3. Potong Tanduk / Dehorning

Potong tanduk sebaiknya dilakukan pada ternak muda menggunakan electric dehorner atau caustic soda untuk mencegah tumbuhnya tanduk. Caranya :

  • Persiapan bahan dan peralatan untuk proses dehorning (caustic soda jika dehorning menggunakan bahan kimia, gunting, vaselin)
  • Bulu disekitar calon tanduk harus terlebiha dahulu digunting dan dibersihkan
  • Kemudian bagian yang sudah dibersihkan diolesi vaselin, agar caustic soda yang dioleskan tidak mengalir ke bagian lain yang berbahaya (mata), Selanjutnya pada dasar calon tanduk itu digosok dengan caustic soda hingga muncul bintik bintik darah
  • Petugas yang melaksanakan dehorning di wajibkan memakai sarung tangan karet agar supaya tidak terkena bahan kimia yang merusak kulit

4. Menghilangkan Puting Susu tambahan

Puting susu yang lebih dari 4 buah, bisa menimbulkan gangguan pada ambing, misalnya untuk sapi yang telah dewasa bisa menimbulkan infeksi di dalam ambing . Cara pertama, oleh peternak berdasarkan petunjuk dari petugas memakai pengikat puting susu tambahan. Hal ini dilakukan ketika umur sapi masih muda. Puting susu tambahannya diikat dengan keras, pakai tali atau karet. Pengikat tersebut dibiarkan sampai puting itu menjadi busuk. Cara lain adalah memotong puting susu tambahan oleh petugas Kesehatan. Umur sapi jangan lebih dari enam bulan.

5. Perawatan Kebersihan Ternak dan sanitasi lingkungan

Untuk menjaga penyakit dan air susu yang dihasilkan bersih, maka sapi perah hendaknya disikat dan dimandikan setiap hari.

  • Rambut-rambut yang panjang pada sekitar ambing dan belakang harus digunting untuk mengurangi penempelan kotoran-kotoran yang dapat masuk kedalam air susu selama pemerahan.
  • Alat kandang harus sering dibersihkan juga peralatan-harus selalu bersih. Bagian-bagian kandang yang dibuat dari kayu/bambu harus dibersihkan dan dicuci dengan menggunakan alat serta bahan pencuci.
  • Sisa makanan dalam tempat makanan harus dibuang setiap hari dan tempat makananpun harus selalu dibersihkan,
  • Saluran pembuangan kotoran, airnya harus selalu lancar dan bersih, kalau bisa usahakan air saluran itu selalu mengalir.
  • Lingkungan untuk selalu bersih dan dilakukan desinfeksi

PENGECEKAN KESEHATAN SAPI

  1. Denyut nadi dapat dirasakan dengan meraba pembuluh nadi pada bagian bawah ekor secara perlahan-lahan dengan menggunakan tiga buah ujung jari. Denyut nadi normal adalah antara 40 – 60 denyut setiap menit. Denyutan lebih dari 90 itu berarti bahaya.
  2. Suhu Badan sapi dikontrol oleh peternak sendiri atau oleh pihak petugas hewan dengan menggunakan thermometer yang diletakkan di bagian pantat, dibawah ekor sapi. Ujung atau akhir termometer 2,5 cm menjolor keluar. Untuk mengetahui suhu, waktu minimal 3 menit. Suhu badan sapi yang normal adalah 57,8 sampai 38,9°C.
  3. Mata menjorok ke dalam atau buram atau merah, telinga dingin, kotoran atau kencing berdarah, kotoran atau air kencing agak berbau aneh atau bau amis, setelah makan tidak mengunyah dalam waktu 45 menit, semua ini merupakan tanda-tanda tidak normalnya organ (bagian tubuh sapi).

GANGGUAN KESEHATAN

Gangguan kesehatan pada sapi sering terjadi, baik diakibatkan oleh penyakit-penyakit karena virus, bakteri, protozoa, jamur maupun traumatic. Gangguan penyakit dapat menular dan tidak menular. Untuk mencegah gangguan kesehatan tersebut, kita harus selalu melaksanakan manajemen pemeliharaaan yang baik dan program vaksinasi oleh petugas kesehatan dari pemerintah. Beberapa gangguan kesehatan / penyakit yang sering terjadi diantaranya :

1. Pendarahan

Perdarahan dapat terjadi karena benturan/traumatik. Untuk mengatasi pendarahan, dapat menggunakan kain bersih yang telah dicelupkan dalam air panas. Kemudian kain tersebut ditempelkan pada tempat perdarahan, sambil ditekan dengan kuat dan darah yang keluar berkurang, jika perlu bagian yang luka tersebut dibalut. Apabila pendarahan terus menerus keluar, ini menandakan bahwa urat nadinya luka/rusak, maka segeralah panggil petugas hewan, untuk mendapatkan pertolongannya. Sebelum petugas datang, usahakan agar sapi tinggal diam dan di tenangkan.

2. Luka pada tubuh dan ambing

Bersihkan bulu-bulu disekitar tubuh yang luka dan kemudian dicuci dengan alcohol atau larutan garam (1 sendok garam dengan ½ liter air hangat). Luka pada puting susu, harus ditangani secara hati-hati dengan segera. Jika luka pada bagian dalam atau luka kena kotoran, segera panggil petugas hewan. Sebagai pertolongan pertama luka itu dapat diobati misalnya dengan iodine atau powder Sulphanilamid.

3. Luka pada kaki

Bersihkan kaki, buang bagian kuku yang menyelubungi bagian telapak kaki yang luka, mungkin diakibatkan batu atau paku yang melukainya, Jika benda-benda seperti batu, paku tadi telah dibuang atau dipotong maka bagian yang luka harus dihindarkan dari serangan kuman, dengan memberi/mengoleskan obat yodium, lalu kakinya dibalut agar tetap bersih.

4. Radang Kuku/Kuku busuk

Sering menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor. Tanda-tanda : mula – mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; kulit kuku mengelupas; tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; sapi pincang dan akhirnya bisa sulit berjalan/lumpuh. Pencegahan dan pengobatannya : dengan memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan rifanol selama 30 menit yang diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan kering;

5. Tersumbat makanan (Keselek, tersedak)

Carilah makanan yang menyumbat disepanjang kerongkongan itu dengan cara tangan kita menyelusuri sepanjang bagian bawah leher. Jika makanan yang menyumbat sudah teraba, maka urutlah kearah depan sampai ke tenggorokan. Kalau hal ini sulit dilakukan, panggilah petugas.

6. Perut Kembung

Perut kembung sering terjadi akibat kurang minum, pemberian rumput atau hijauan makanan ternak yang basah oleh embun atau oleh pemberian makanan penguat yang berjarak lama dengan pemberian rumput pada anak sapi. Pertolongan pertama, dapat dilakukan dengan pemberian minyak kelapa secukupnya, sampai sapi tersebut berak-berak, atau segera saja lapor kepada petugas untuk mendapatkan pertolongan/pengobatan.

7. Batuk

  • Bronchitis (kedinginan saluran pernapasan),ditandai dengan keluarnya ingus dari rongga hidung. Untuk mengatasinya dapat dengan memberikan/menutup lantai kandang dengan jerami atau rumput kering untuk menjaga agar ternak tetap merasa hangat. Bila terserang batuk-batuk usahakan untuk mengurangi memandikan ternak,
  • Infeksi Tubercullosis (TBC), gejalanya adalah batuk kering dan terlihat sakit waktu batuk, sapi menjadi kurus dan lemah. Karena itu lapor segera pada petugas kesehatan. Sapi harus dijauhkan dari ternak lainnya. Untuk mencegah terjangkitnya (TBC), maka setiap tahun sekali sapi harus di cek kesehatannya oleh petugas.Kutu dan Kudis

8. Kutu dan Kudis

Kebanyakan terjadi pada anak sapi usia muda, yang ditempatkan pada kandang yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan kurang mendapatkan makanan yang bergizi. Untuk membasmi kutu, taburilah leher, punggung, buntut dan sekeliling kepala bagian atas begitu juga telinga dengan obat anti kutu. Penyakit kudis adalah salah satu penyakit yang berbahaya. Kudis ini membuat kulit sapi gatal sekali, kulit menjadi kering, kasar, keriput dan kisut. Sapi yang sakit kudis sering menjadi kurus, dan hasil air susunya turun. Untuk menanggulangi kudis, basuh atau cucilah bagian tubuh yang terkena kudis tersebut dengan sabun, lalu dilap dengan perlahan-lahan untuk membuat kulit dan kemudian semprot dengan iodine. Jika kudis sudah meluas segera panggil petugas kesehatan

9. C a c i n g

Penyakit cacing ini sering terjangkit, diakibatkan oleh :

  • Keadaan kandang yang kotor dan becek.
  • Pemberian rumput yang berasal dari rawa tanpa di keringkan terlebih dahulu.

Penyakit cacing yang sering menyerang sapi, adalah penyakit cacing pita dan cacing hati. Penyebaran penyakit cacing ini sangat cepat sekali dari satu sapi ke sapi lainnya. Tanda-tanda yang dapat dilihat adalah :

  • Sapi kurus, tulang-tulangnya terlihat jelas.
  • Nafsu makan besar tetapi tetap kurus.
  • Perut kembung.
  • Mata sayu.
  • Kadang-kadang kotorannya mencret,

Pengobatan : Oleh peternak dapat menggunakan buah pinang yang di tumbuk atau dengan obat cacing dari petugas kesehatan hewan. Sebagai langkah pencegahan, sapi sebaiknya dibei pengobatan cacing secara rutin 6 bulan sekali (minta pada petugas kesehatan)

10. Mencret (Diarrhea)

Mencret yang tidak begitu parah mungkin disebabkan oleh kedinginan atau perubahan diet makanan, hal ini dapat sembuh dengan sendirinya. Yang dapat dilakukan peternak adalah memberikan cairan pengganti (elektrolit) untuk mencegah dehidrasi. Namun mencret yang kronis atau terus-menerus dan disertai keluar darah mungkin disebabkan oleh penyakit atau parasit, hal ini harus ditangani oleh petugas kesehatan hewan.

11. Nafsu makan hilang/tidak mau makan

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan sapi tidak mau makan, antara lain pemberian makanan yang berlebihan, pencernaan yang tak sempurna (gangguan alat pencernaan), atau makanan yang terlalu kotor, yang tak sedap baud dan rasanya. Jika perubahan makanan tidak memberi hasil yang baik, maka periksalah suhu badan sapi (oleh petugas kesehatan), mungkin sapi menderita demam sehubungan kedinginan atau menderita panas yang berlebihan pada ambingnya atau bagian tubuh lainnya. Atau akibat adanya benda asing (seperti paku atau kawat) di dalam perut keempat. Keadaan seperti ini memerlukan penanganan dan perawatan petugas kesehatan.

12. Penurunan Produksi air susu

Ada beberapa penyebab menurunnya produksi susu sapi diantaranya :

  1. Akibat dari makanan yang tidak cocok, atau makan jenis makanan tertentu secara berlebihan, atau perubahan diet makanan yang terlalu mendadak atau cepat. Perubahan diet harus dilakukan secara bertahap dengan jarak kira-kira enam hari.
  2. Sapi sedang birahi, stress
  3. Cuaca/musim

Beberapa penyakit dapat mengakibatkan berkurangnya produksi susu. Jika merasa ragu-ragu, lapor pada petugas kesehatan untuk penanggulangannya dengan segera tanpa ditunda-tunda.

13. Mastitis (Radang ambing)

Mastitis terjadi dalam bentuk yang ringan atau berat. Mastitis dalam bentuk yang ringan dapat dilihat dari bintik-bintik kecil bila susu yang pertama keluar dari perahan yang pertama yaitu serempatnya diarahkan pada mangkuk bergaris yang dihitamkan (ditandai) atau pada cangkir yang ditutup kain hitam. Penanggulangan mastitis ringan adalah :

  • Sapi yang menderita mastitis (puting yang terserang mastitis) harus lebih sering diperah, empat-enam kali perhari, dengan benar.
  • Lakukan dipping putting secara tepat dan benar
  • Segera lapor pada petugas untuk mendapatkan pertolongan.

Dianjurkan supaya susu yang mastitis dibuang, jangan diberikan pedet kembali, jika kualitas susu belum begitu banyak perubahannya. Susu tersebut tidak boleh dijual atau dicampur dengan air susu yang lain. Segera setelah melakukan pemerahan peternak mencuci tangan dan ember serta lap yang digunakan dengan air panas daa sabun serta tepol. Itulah salah satu jalan untuk mencegah penyebaran penyakit, sapi yang lainnya.

Untuk sapi penderita Mastitis yang gawat:  Susu yang pertama kali keluar menyerupai nanah dan yang seperti empat bagian lagi kelihatan keaerahan dan panas serta agak keras. Hal seperti ini harus ditangani oleh petugas kesehatan

14. Kelumpuhan / Ambruk

Penyakit yang sering menyerang sapi perah dan sangat merugikan adalah bila terjadi kelumpuhan setelah melahirkan. Kelumpuhan ini sering terjadi akibat sapi yang akan melahirkan kekurangan tenaga, vitamin atau kalsium. Kelumpuhan ini sering terjadi pada kelahiran ke dua dan seterusnya untuk sapi-sapi yang produksinya tinggi.

Pencegahan : Sapi-sapi yang sudah bunting tua 2 minggu lagi akan melahirkan harus diberi kalsium/mineral yang dicampurkan pada penguat, diberi pakan penguat yang jumlahnya hampir sama dengan sapi yang sedang diperah. Kemudian dua sampai tiga hari sebelum melahirkan diberi gula merah untuk menambah tenaga.

Pengobatan : Segera lapor pada petugas untuk mendapatkan pengobatan dengan segera. Sambil menunggu petugas datang sapi yang lumpuh harus dibolak-balik kedudukannya.

15. Penyakit Anthraks

Penyebab anthraks adalah Bacillus anthracis, yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan. Tanda-tanda penyakit antraks yaitu : Pada umumnya ternak mati secara mendadak (berakut) tanpa didahului gejala klinis yang nyata dan biasanya diikuti dengan keluarnya darah yang berwarna hitam dari lubang tubuh. Apabila sempat muncul gejala khusus secara cepat biasanya berupa demam tinggi, badan lemah dan gemetar; gangguan pernafasan; pembengkaan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; limpa bengkak dan berwarna kehitaman.

Pencegahan dan pengendalian : Dapat dilakukan dengan vaksinasi, pengobatan antibiotik, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta ternak yang mati ( bangkai ) karena antraks dilarang keras dibuka ( bedah bangkai) serta harus segera mengubur/membakar sapi yang mati

Pengobatan : Segera lapor pada petugas untuk mendapatkan pengobatan dengan segera. Sambil menunggu petugas datang sapi yang diduga dilakukan pemisahan

16. Gugur menular / Keluron

Kasus gugur menular / keluron terjadi karena adanya bakteri brucella abortus. Gejalanya banyak terjadi keguguran (biasanya umur 5-8 bulan kebuntingan) dan cepat penularannya.

Pencegahan dan Penanganan : Hendaknya pisahkan ternak yang sakit dan segera memanggil petugas kesehatan hewan, dan dengan pemeriksaan sampel darah atau air susu di laboratorium dapat menunjukkan adanya kasus Brucellosis. Untuk mencegah sapi dari hal itu, saat ini sudah ada program vaksinasi, lakukan pengecekan darah secara berkala, dan harus disertai sanitasi kandang yang baik.

17. Penyakit Ngorok (SE)

Penyakit Ngorok penyebabnya adalah bakteri Pasteurella multocida dengan penularannya melalui makanan dan minuman tercemar bakteri. Tanda – tanda penyakit ngorok yaitu kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah kebiruan, leher, anus, dan vulva membengkak paru -paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua. Apabila dilakukan bedah bangkai, maka demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12 – 36 jam.

Pencegahan dan pengendaliannya : dengan vaksinasi anti SE dan diberi antibiotik (misalnya gol. Sulfa).

Pengobatan : Segera lapor pada petugas untuk mendapatkan pengobatan dengan segera. Sambil menunggu petugas datang sapi yang diduga dilakukan pemisahan

18. Penyakit Mulut dan Kuku

Tanda-tanda sapi yang terkena penyakit ini :

  1. Melepuh pada bagian lidah, gusi, puting susu dan di dalam kuku sumbing.
  2. Air liur keluar berlebihan,
  3. Hilangnya selera makan.
  4. Produksi air susu turun sekali.

Penyebaran penyakit ini cukup cepat, karena dapat menjalar dengan mudah bila terjadi kontak antara hewan yang terkena dengan hewan lainnya. Peternak hendaknya segera lapor kepada petugas, kalau sapi kepunyaannya ada yang terkena PMK. Sapi yang sakit PMK, sulit untuk diobati, agar tidak menjalar kepada sapi yang lain, cara mengatasinya, dengan dilakukan mematikan ternak tersebut dan kemudian membakarnya sampai menjadi abu. Daerah terkena PMK ditutup dengan cara menisolasi dari kontak hubungan antara hewan dari daerah tersebut dengan daerah lainnya.

Pencegahan PMK : Ternak yang sehat di vaksinasi. Vaksin mulai diberikan kepada sapi berumur 3 bulan atau lebih.

(Sumber : Materi Bimtek Manajemen Sapi Perah BBPTU-HPT Baturraden)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 12, 2015 in Uncategorized

 

Silase Jagung (Pakan Alternatif untuk Ternak Sapi Perah)

     Silase merupakan salah satu teknik pengawetan Hijauan Makannan Ternak (HMT). Prinsip teknologi pengolahan HMT ini adalah dengan melakukan langkah fermentasi, sehingga lebih kaya akan nutrisi dan lebih mudah dicerna oleh ternak. Selain meningkatkan kualitas pakan, silase juga bertujuan untuk proses pengawetan pakan.

     Salah satu HMT yang dijadikan silase adalah jagung. Silase jagung dapat dijadikan pakan alternatif di musim kemarau. Dan yang lebih menguntungkan lagi bagi peternak silase ini bisa disimpan dalam waktu 3-6 bulan. Pada prinsipnya dasar pembutan silase adalah menciptakan terjadinya kondisi anaerob (kondisi asam) didalam silo (tempat pembuatan silase).

Cara pembuatan silase :

  • Daun dan batang jagung yang berumur 90 -100 hari (lebih bagus), dicacah dengan panjang 10- – 50 mm. Selain untuk menyergamka ukuran Pencacahan ini juga bertujuan mengurangi kadar air.
  • Pembuatan silase di lakukan didalam silo yang dapat terbuat dari kantong plastik bagian dalam dan karung plastik untuk bagian luar. Atau bisa juga dengan menanam drum didalam tanah. Hal ini bertujuan untuk mendapatan susana yang anaerob.
  • Proses fermentasi memerlukakan starter untuk merangsang pertumbuhan bakteri asam laktat. Starter bisa berupa molases, gula pasir atau gula merah. Prnggunaan starter sebanya 10% dari berat hijaun. Dan dapat pula ditambahkan bahan kimia EM-4 secukupnya.
  • Semua bahan dcampur dengan merata. Setelah betul-betul rata campuran ini dimasukkan kedalam silo sedikit demi sedikit. Setelah padat dan penuh tutup dan tekan agar udara di dalam silo keluar. Ikat atau tutup silo sampai tidak ada lagi gelembung udara (kondisi anaerob) di dalam silo .
  • Waktu penyimpanan dan proses fermentasi terjadi selama 3 minggu (21 hari) setelah itu silase siap untuk digunakan, masa penyimpanan silase ini selama 3 – 6 bulan setelah panen.

     Kriteria silase yang baik adalah rasa dan bau asam tapi harum., warna masih kelihatan hijau, pH rendah, tekstur hijauan masih terlihat jelas, tidak berjamur, berlendir dan tidak menggumpal.

2014-07-24-09-35-35_deco

  Sebelum diberikan kepada ternak silase sebaiknya diangin-anginkan terlebih dahulu. Pemberian kepada ternak dalam 1 hari cuma boleh dibuka 1 kali (untuk makan pagi dan sore dikeluarkan dari dalam silo bersama-sama).

    Ternak yang belum terbiasa makan silase diberikan sedikit demi sedikit, dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan. Jika sudah terbiasa dapat diberikan secara dengan kebutuhan.

Selamat mencoba ^_^

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 24, 2014 in Uncategorized

 

Pemeliharaan Sapi Perah : Pemotongan Tanduk

Pemotongan tanduk pada pemeliharaan pedet masa sapih sangat perlu ditinjau dari segi keamanan karena tanduk sapi perah betina dapat merugikan karena ternak menjadi sulit untuk dikendalikan, misalnya pada saat pemberian obat, palpasi rektal (dikodok), pemberian nomor telinga dll, sehingga dapat membahayakan orang disekitarnya dan membahayakan ternak disekitarnya.
Sebaiknya tanduk sapi perah betina di potong, keuntungannya adalah “AMAN”
Tanduk dapat dipotong pada masa pedet, sapi dara atau pada masa sapi laktasi.
Yang perlu dipersiapkan pada pemotongan tanduk pada sapi dara atau sapi laktasi :
• Membutuhkan alat khusus (dehorner) untuk memotong tanduk
• Memerlukan orang yang banyak untuk membantu mengendalikan (handling) sapi.
• Sapi mungkin stres berat akibat banyak mengeluarkan darah.
Lebih baik memotong atau menghilangkan bakal tanduk pada saat pedet berumur satu bulan karena :
• Membutuhkan cara dan alat potong tanduk yang sederhana.
• Mudah mengerjakannya.
• Relative lebih mudah mengendalikan pedet.
• Tidak memerlukan orang banyak.

Cara Memotong atau Menghilangkan Bakal Tanduk Pedet
1. Persiapan Alat dan Bahan
• Alat Potong Tanduk (dehorner) yang sederhana berjumlah lebih dari satu.
• Gunting
• Kompor atau Tungku arang sebagai sumber panas, dll.
• Salep antibiotic atau yodium tinktur
• Kapas

2. Mengendalikan Pedet
Pedet dipegang atau dikendalikan sedemikian rupa sehingga badannya tidak dapat bergerak dan kepala mengarah petugas pemotong tanduk.

3. Orientasi Daerah Tanduk
Agar bakal tanduk lebih mudah terlihat maka bulu disekitarnya digunting atau dibakar.

4. Memotong Tanduk
Memotong atau menghilangkan bakal tanduk :
• Dehorner dipanaskan sampai ujungnya merah membara
• Akar tanduk dipotong atau dilepas, caranya adalah menekan kuat – kuat dan mencungkil akar tanduk dengan cepat (10 – 15 detik)
• Bekas akar tanduk yang berdarah diolesi salep antibiotic atau yodium tinktura.

Gambar

Mengingat pentingnya manfaat pemotongan tanduk baik bagi keselamatan peternak maupun bagi sapi itu sendiri maka diharapkan para peternak dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemotongna tanduk ini. Dinas Pertanian Kota Padang Panjang melalui UPTD Puskeswan memiliki tenaga teknis pemotongan tanduk yang telah dilengkapi dengan alat potong yang standar. Untuk itu bagi masyarakat peternak Kota Padang Panjang yang ingin memotong tanduk ternaknya dapat menghubungi petugas teknis di UPTD Puskeswan Kota Padang Panjang yang beralamat di Jalan RPH Kelurahan Silaing Bawah (Simpang Hotel Flaminggo) Padang Panjang.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 25, 2014 in Uncategorized

 

DAIRY PROJECT DESIGN: KERJASAMA INDONESIA-NEW ZEALAND DI KOTA PADANG PANJANG

Kunjungan konsultan dari New Zealand, Mr. Keith Milligan, ke kandang sapi Keltan Tunas Baru awal Januari 2013 lalu

Kunjungan konsultan dari New Zealand, Mr. Keith Milligan, ke kandang sapi Keltan Tunas Baru tanggal 21 Januari 2013 yang lalu

Dairy Project Design adalah suatu program kerjasama antara Indonesia dengan New Zealand di bidang persusuan yang rencananya akan dilaksanakan dalam jangka waktu 5 tahun. Adapun calon lokasi kegiatan ini adalah di Provinsi Jawa Tengah dan Sumatera Barat. Setelah melakukan kunjungan awalnya pada tanggal 21 Januari 2013 oleh Mr. Keith Milligan, konsultan dari Fonterra, sebuah perusahaan susu global yang berbasis di New Zealand, ke peternakan sapi perah di Kota Padang Panjang dan kemudian diikuti kunjungan keduanya pada tanggal 8 Juli 2013 menunjukkan bahwa potensi yang ada di kota yang berhawa sejuk ini, dengan keterbatasan luas wilayahnya, masih memungkinkan untuk tetap dilakukan pengembangan baik secara kuantitas maupun kualitas sapi perahnya. Ini dibuktikan dengan ditunjuknya Padang Panjang sebagai salah satu lokasi pelaksanaan program ini.

20130121_131132

Pertemuan dengan konsultan dari NZ tentang potensi usaha sapi perah di Sumatera Barat bertempat di Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat, Padang pada tgl. 21 Januari 2013

Pertemuan dengan konsultan dari NZ tentang potensi usaha sapi perah di Sumatera Barat bertempat di Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat, Padang pada tgl. 21 Januari 2013

Kunjungan konsultan dari NZ tanggal 21 Januari 2013 ke keltan Tunas Baru, Kelurahan Ganting-Padang Panjang

Kunjungan tanggal 21 Januari 2013 ke keltan Tunas Baru, Kelurahan Ganting-Padang Panjang

Kunjungan konsultan dari NZ tanggal 21 Januari 2013 ke keltan Tunas Baru, Kelurahan Ganting-Padang Panjang

Di lokasi lahan hijauan Keltan Tunas Baru, Kelurahan Ganting-Padang Panjang

Mr. Keith saat menikmati menu produk hasil pengolahan susu sapi KPHP Bukit Serambi di   Kape Raun, Bukit Surungan

Mr. Keith saat menikmati menu produk hasil pengolahan susu sapi KPHP Bukit Serambi di Kape Raun, Bukit Surungan

Kunjungan yang kedua konsultan dari NZ tanggal 8 Juli 2013 ke keltan Tunas Baru, Kelurahan Ganting-Padang Panjang

Kunjungan yang kedua konsultan dari NZ tanggal 8 Juli 2013 ke keltan Tunas Baru, Kelurahan Ganting-Padang Panjang

Hal ini dibuktikan dengan kunjungan mereka yang ketiga kalinya yaitu pada tanggal 22 November 2013 lalu. Rombongan sebanyak 7 orang yang terdiri dari Mr.Geoff Mavrotis selaku Ketua Tim, bersama rekan yang lain yaitu Mr.Dennis Radford (Training System), Mr. Steve Hannam (Vocational Training Institutions), Mrs. Sarah Speight (Dairy Husbandry), Drh. Pammusureng (Konsultan Lokal), Ir. Titiek Eko (Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan) serta perwakilan dari Kedutaan Besar New Zealand di Indonesia. Target kunjungan mereka ini adalah melakukan identifikasi akhir tentang usaha peternakan sapi perah di Kota Padang Panjang.

Mr. Geoff dan rombongan saat berada di kantor Dinas Pertanian Kota Padang Panjang

Mr. Geoff dan rombongan saat berada di kantor Dinas Pertanian Kota Padang Panjang

Diawali dengan berkunjung ke kantor Dinas Pertanian Kota Padang Panjang yang berada di Jl. Ahmad Yani No.30 Kelurahan Ngalau, rombongan disambut langsung oleh Kepala Dinas Pertanian, Ir. Candra, M.Si serta Kepala Bidang Peternakan, Ir. Nasrul Yahya beserta staf di bidang peternakan. Pembicaraan pun berlangsung intensif seputar kondisi dan permasalahan yang ada serta kebijakan Pemerintah Kota Padang Panjang terhadap usaha peternakan sapi perah melalui program dan kegiatan yang ada di Dinas Pertanian.

Diskusi tentang perkembangan usaha peternakan sapi perah di Kota Padang Panjang bersama kadisperta, Ir. Candra, M.Si

Diskusi tentang perkembangan usaha peternakan sapi perah di Kota Padang Panjang bersama Kadisperta, Ir. Candra, M.Si

Setelah melakukan diskusi, rombongan pun bergerak meninjau langsung ke lapangan yaitu ke kandang ternak Kelompok Tani Tunas Baru-Kelurahan Ganting dan Kelompok Tani Lembu Alam Serambi-Kelurahan Silaing Bawah, serta meninjau pabrik pakan ternak skala kecil yang dimiliki oleh Kelompok Tani Parmato Mudo Nagari-Kelurahan Silaing Bawah yang saat ini merupakan pemasok kebutuhan pakan konsentrat bagi sebagian besar peternak sapi perah yang ada di Padang Panjang dan daerah lainnya. Tak lupa mereka juga mengunjungi outlet produk susu KPHP Bukit Serambi-Kelurahan Kampung Manggis di Kape Raun. Untuk pengawasan dan pelayanan usaha peternakan, Dinas Pertanian juga memiliki unit teknis berupa UPTD Puskewan yang berlokasi di komplek RPH Kota Padang Panjang, Kelurahan Silaing Bawah. Rombongan juga meninjau kegiatan dan fasilitas yang ada di Puskeswan ini.

20131122114651

Mr.Geoff dan rombongan saat berkunjung ke Keltan Tunas Baru, Ganting

Mr.Geoff dan rombongan saat berkunjung ke Keltan Tunas Baru, Ganting

_DSC5012 _DSC5030

Kunjungan ke kandang sapi perah Keltan Lembu Alam Serambi, Silaing Bawah

Kunjungan ke kandang sapi perah Keltan Lembu Alam Serambi, Silaing Bawah

Saar berada di pabrik pakan ternak skala kecil di Keltan Parmato Mudo Nagari, Silaing Bawah

Saat berada di pabrik pakan ternak skala kecil di Keltan Parmato Mudo Nagari, Silaing Bawah

Berbincang dengan pelajar yang juga merupakan konsumen di Kape Raun

Berbincang dengan pelajar yang juga merupakan konsumen di Kape Raun

Berfoto bersama dengan Kepala UPTD Puskeswan, Drh.Indra, di kantor Puskeswan, Silaing Bawah

Berfoto bersama dengan Kepala UPTD Puskeswan, Drh.Indra, di kantor Puskeswan, Silaing Bawah

Setelah melihat, menilai dan melakukan identifikasi langsung ke lapangan, rombongan dari New Zealand ini pun kembali ke Jakarta untuk membuat rumusan kegiatan yang dibutuhkan sesuai dengan kondisi masing-masing daerah baik itu berupa sarana dan prasarana, peningkatan SDM bahkan melalui penambahan populasi ternak sapi perah yang berkualitas. Mudah-mudahan dengan adanya program ini, kedepan usaha peternakan sapi perah dan pengolahan susu di Kota Padang Panjang bisa lebih meningkat lagi dan akhirnya tentunya kesejahteraan peternak yang kita cita-cita kan bisa diraih. Amin YRA.

 

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 29, 2013 in Uncategorized

 

Tag: , , , , , , , ,

KEFIR

DSC_1413

Berbagai hasil olahan susu Kape Raun

Kefir adalah makanan fungsional probiotik (mikroorganisme yang berguna, dan kalau konteksnya adalah pangan, berarti makanan atau minuman yang berisi mikroorganisme-mikroorganisme yang begitu masuk dalam tubuh akan dapat berguna dan meningkatkan kesehatan tubuh). Kefir terbuat dari bahan susu sapi murni tanpa pemanasan terlebih dahulu yang difermentasi dengan kefir grains dan berasal dari daerah Kaukasus.

Asal mula nama Kefir diduga dari bahasa Turki ‘Keif’, yang berarti keadaan atau kondisi yang baik. Dugaan yang lebih memiliki landasan adalah bahwa nama Kefir berasal dari “kaafuura”, yaitu nama mata air di surga yang airnya berwarna putih, harum baunya dan lezat rasanya. Kata ini tercantum dalam Al Qur’an, yaitu pada Surat Al Insaan, ayat 5. Dari wujudnya kefir berbeda dengan yogurt dan dari rasa pun lebih asam dari yogurt. Kefir sendiri bisa terdiri dari 2 jenis (krim dan bening)

Masyarakat pegunungan Kaukasus rata-rata berusia panjang mencapai usia 100 tahun, percaya bahwa benih kefir diberikan pada masyarakat Kaukasus oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga benih kefir itu disebut “butir benih dari Nabi” (The Grains of Prophet).

Kefir selain menjaga kesehatan juga bisa melakukan penyembuhan / recovery terhadap sel-sel atau bakteri-bakteri baik dalam tubuh yg sudah rusak, karena kefir mengandung mineral dan asam amino essensial yg berfungsi sebagai unsur pembangun, pemelihara dan memperbaiki sel yang rusak.

Bagi anda yang berada di Kota Padang Panjang, terdapat sebuah Kafe bernama Kape Raun yang terletak di Kelurahan Bukit Surungan (dekat Terminal Bus). Kape ini memproduksi berbagai macam olahan susu murni seperti : susu pasteurisasi, es krim susu, Pempek Susu, Permen Susu maupun susu olahan fermentasi. Nah !! bagi yang berminat silahkan saja datang ke tempat Kape Raun tersebut.

oleh : @r.charlie

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 30, 2013 in Uncategorized

 

Menuju Benih dan Bibit Ternak Bersertifikat

Sapi Perah yang sesuai SNI No.2735:2008 dan memiliki sertifikat dari LSPro Bibit Ternak di Kelompok Tani Ternak Lembu Alam Serambi, Kota Padang Panjang

Sapi Perah yang sesuai SNI No.2735:2008 dan memiliki sertifikat dari LSPro Bibit Ternak di Kelompok Tani Ternak Lembu Alam Serambi, Kota Padang Panjang

Indonesia dengan kekayaan sumber daya yang dimilikinya harus pandai-pandai dalam mengelolanya, salah satu yang harus kita jaga dan kelola secara terus menerus adalah sumber daya berupa ternak. Masyarakat Indonesia yang rata-rata penduduknya bermata pencaharian sebagai petani juga sebagai peternak. Hal ini lah yang harus kita selalu jaga agar peternak Indonesia bisa memiliki ternak yang unggul sehingga bisa berpenghasilan yang lebih baik lagi (meningkat).

Direktorat Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan yang merupakan salah satu eselon I di Kementerian Pertanian, saat ini memiliki lembaga yang tugasnya menerbitkan sertifikat benih dan bibit ternak di Indonesia. Bahwasannya Menteri Pertanian menetapkan Lembaga Sertifikasi Produk Benih dan Bibit Ternak berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 75/Permentan/OT.140/11/2011 tanggal 30 November 2011, tentang Lembaga Sertifikasi Produk Bidang Pertanian yang berkedudukan di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang nomor 18 tahun 2009 pasal 13 ayat (4) dan ayat (5) dan Peraturan Pemerintah nomor 48 tahun 2012; Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan sesuai dengan kewenangannya berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang peternakan dan kesehatan hewan serta salah satu fungsinya melaksanakan kebijakan di bidang perbibitan ternak.

Swasembada daging nasional melalui program PSDSK harus didukung salah satunya dengan ketersediaan benih dan bibit ternak yang mencukupi dengan kualitas yang baik, untuk membuktikan bahwa benih dan bibit tersebut bermutu, layak untuk dikembangbiakkan, serta sesuai dengan SNI yaitu dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian melalui Lembaga Sertifikasi Produk Benih dan Bibit Ternak (LSPro).

Tahapan Memperoleh Sertifikat

Bagi pelaku usaha pembibitan baik swasta maupun pemerintah perlu mengetahui tahapan untuk memperoleh sertifikat, sehingga semua elemen masyarakat baik swasta maupun pemerintah akan berlomba-lomba untuk memperbaiki benih dan bibit ternak yang dimiliki. Berikut tahapan-tahapan untuk memperoleh sertifikat :

  1. Pihak swasta/pemerintah mengajukan permohonan ke LSPro
  2. LSPro melakukan audit kelengkapan dan kebenaran dokumen
  3. Perbaikan dan pelengkapan dokumen oleh pemohon (kalau ada)
  4. Pelaksanaan audit kecukupan oleh Auditor Eksternal
  5. Perbaikan dokumen kecukupan oleh pemohon (kalau ada)
  6. Pelaksanaan audit kesesuaian oleh Auditor Ekternal
  7. Perbaikan (apabila tidak sesuai) oleh pemohon
  8. Hasil audit dibahas dalam rapat Komisi Teknis
  9. Pengeluaran Rekomendasi oleh Komisi Teknis
  10. Apabila rekomendasi tidak memenuhi syarat akan dikembalikan ke pemohon untuk dilakukan perbaikan
  11. Apabila memenuhi syarat maka rekomendasi akan segera ditindaklanjuti oleh LSPro untuk diterbitkan sertifikat
  12. Sertifikat diserahkan ke pemohon

Peran dan Harapan LSPro Saat Ini

Saat ini keberadaan Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) Benih dan Bibit Ternak sudah berjalan dua tahun, dalam melaksanakan sertifikasi LSPro Benih dan Bibit Ternak akan menilai kesesuaian produk berdasarkan sistem manajemen mutu sesuai ISO 9001:2008 dan SNI. Saat ini belum semua pelaku usaha (swasta dan pemerintah) dapat memenuhi persyaratan untuk mensertifikasikan produknya ke LSPro. Hal ini selain karena masih kurangnya sosialisasi ke pelaku usaha, juga disebabkan karena belum semua pelaku usaha melaksanakan proses produksi mengacu pada Good Breeding Practices (GBP) dan sistem manajemen mutu sesuai ISO 9001:2008. Di lain pihak kebutuhan masyarakat akan bibit yang sesuai standar semakin meningkat, begitu juga swasembada daging nasional tetap membutuhkan dukungan agar ketergantuan terhadap impor sapi berkurang.

LSPro Benih dan Bibit dari awal pembentukannya sampai sekarang sudah mengeluarkan sertifikat sebanyak 36 untuk benih dan 99 untuk bibit. Dari benih dan bibit yang sudah dikeluarkan sertifikatnya tersebut, masihberasal dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemerintah, antara lain Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, sebanyak 36 Sertifikat Kesesuaian SNI 4869.1-2008 Semen beku sapi, Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Bali sebanyak 73 Sertifikat Kesesuaian SNI 7355-2008 Bibit sapi Bali, Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul (BBPTU) Sapi Perah Baturraden sebanyak 26 Sertifikat Kesesuaian SNI 2735-2008 Bibit sapi perah Indonesia.

Diharapkan ke depan akan lebih banyak pelaku usaha yang akan mengajukan permohonannya untuk mendapatkan benih atau bibit yang mutunya terjamin yang dibuktikan dengan sertifikat produk peggunaan tanda SNI.

Ruang lingkup LSPro Benih dan Bibit Ternak :

DATA SNI Direktorat Perbibitan TernakDirektorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan
No SNI
Nomor Judul
1 SNI 01.4226.1996 Kuda Pacu Indonesia
2 SNI  01.4868.1:2005 Bibit Niaga (Final Stock) ayam ras tipe pedaging  umur sehari
3 SNI  01.4868.2:2005 Bibit Niaga (Final Stock) ayam ras tipe petelur  umur sehari
4 SNI  2735:2008 Sapi Perah Indonesia
5 SNI  4869.1:2008 Semen beku Sapi (hasil revisi)
6 SNI  4869.2:2008 Semen beku Kerbau (hasil revisi)
7 SNI 7325:2008 Bibit Kambing Peranakan Etawa  (PE)
8 SNI 7353:2008 Bibit induk (parent stock) ayam ras tipe petelur  umur sehari
9 SNI 7354:2008 Bibit induk (parent stock) ayam ras tipe pedaging  umur sehari
10 SNI 7355:2008 Bibit Sapi Bali
11 SNI 7356:2008 Bibit Sapi Peranakan Ongole (PO)
12 SNI 7357:2008 Bibit Niaga (final stock) itik mojosari meri umur sehari
13 SNI 7358:2008 Bibit Niaga (final stock) itik alabio meri umur sehari
14 SNI 7359:2008 Bibit Niaga (final stock) itik mojosari dara
15 SNI 7360 : 2008 Bibit Niaga (final stock) itik Alabio dara
16 SNI 7532 : 2009 Bibit domba garut
17 SNI 7558 : 2009 Bibit Induk (Parent Stock) Itik Mojosari Meri
18 SNI 7559 : 2009 Bibit Induk (Parent Stock) Itik Mojosari  Muda

19

SNI 7556 : 2009 Bibit Induk (Parent Stock) Itik Alabio Meri
20 SNI 7557 : 2009 Bibit Induk (Parent Stock) Itik Alabio  Muda
21 SNI 7651.1:2011 Bibit Sapi Potong-Bagian 1: Brahman Indonesia
22 SNI 7706.1:2011 Bibit Kerbau-Bagian 1:Lumpur
23 SNI 7651.2-2013 bibit sapi potong-bagian 2 : madura

Sutaryono, A.Md – Direktorat Perbibitan Ternak

Sumber : http://ditjennak.deptan.go.id/index.php?page=berita&action=detail&idberita=407

 

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 28, 2013 in Uncategorized

 

Tag: , , , ,

Menimba Ilmu ke Baturraden (Part II) : Manajemen Pemeliharaan Sapi Perah

Kondisi persusuan di Indonesia saat ini masih sangat jauh dengan harapan pemerintah yang telah mencanangkan Swasembada Susu Tahun 2020. Hal ini terlihat dari kondisi di lapangan dimana sekitar 70% kebutuhan akan susu sapi masih dipenuhi dengan cara impor meski angka konsumsi susu perkapita masyarakat Indonesia yang hanya sebesar 10,47 kg per kapita per tahun.

Untuk mewujudkan cita-cita ini, banyak hal harus dilakukan dan salah satunya adalah dengan cara peningkatan populasi ternak sapi perah. Tersedianya bibit ternak berkualitas dalam jumlah yang cukup mudah diperoleh dan dijangkau serta terjamin kontinuitasnya adalah hal yang mesti terlaksana segera. Untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat kita terhadap susu, setidaknya populasi ternak mesti mencapai jumlah 2,3 juta ekor di tahun 2020 tersebut.

Bibit sapi perah sebagai calon induk penghasil susu untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat

Bibit sapi perah sebagai calon induk penghasil susu untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat

 Hal yang paling mendasar dalam manajemen pemeliharan sapi perah adalah membuat ternak merasa nyaman dan sehat sehingga produksi dan reproduksinya berjalan secara optimal. Agar dapat berhasil, peternak harus mempunyai hal-hal sebagai berikut : 

  • kesabaran dan rasa sayang terhadap ternak
  • kemauan dan ketekunan bekerja
  • pengetahuan tentang teknis pemeliharaan ternak
  • kemampuan untuk mengembangkan usaha

Keempat hal diatas merupakan kunci sukses yang harus ada dalam diri peternak dalam menjalankan usaha peternakan sapi perah selain bibit ternak dan manajemen pakan. Jika salah satu atau beberapa dari unsur tersebut tidak dipenuhi akan mengakibatkan kegagalan dalam usaha/usaha tidak dapat mendapatkan hasil yang optimal. Butuh kesabaran peternak untuk menunggu masa produksi/laktasi sapi karena ternak tersebut mesti bunting dan melahirkan terlebih dahulu. Karakterisitk sapi perah yang memiliki perasaan yang sensitif sehingga dengan adanya perubahan perlakuan kita terhadap ternak tersebut dapat mengakibatkan penurunan produksi susunya. Begitu juga dengan pengetahuan peternak tentang teknis pemeliharaan ternak perlu selalu ditingkatkan karena merekalah yang sehari-harinya berinteraksi dengan sapi. Bagaimana ciri-ciri ternak birahi, perubahan perilaku ternak, kondisi kesehatan ternak dan hal teknis lainnya mesti dimiliki oleh peternak. Usaha ternak sapi perah ini sebaiknya jangan dijadikan kegiatan sampingan karena untuk mencapai keberhasilan usaha ini butuh disiplin dan komitmen kuat dari pelakunya.

Kandang sapi perah type freestall di Farm Tegalsari

Kandang sapi perah type freestall di Farm Tegalsari

Beberapa hal yang penting diketahui pada tingkatan fase umur sapi perah betina adalah sebagai berikut :

  1. Pedet (lahir s.d 6 bulan) : penanganan pedet baru lahir, pencatatan (bobot dan pemberian identifikasi ternak), melatih pedet minum susu (pemberian kolostrum hingga umur 7 hari), pemberian pakan dan kesehatan pedet.
  2. Sapi dara ( umur >6 bulan s.d siap kawin) : pemeliharaan, pemberian pakan, pengukuran pertumbuhan, kesehatan.
  3. Sapi Dewasa : pemeliharaan, pakan, pengawasan birahi, pemeliharaan pada masa kebuntingan, laktasi, masa kering dan kelahiran.

Kandang merupakan bangunan yang digunakan untuk memberikan perlindungan dan kenyamanan kepada ternak terhadap hujan, radiasi matahari, derasnya aliran angin dan bahaya dari gangguan ternak lain sehingga proses fisiologis ternak dapat berlangsung secara optimal.

Beberapa persyaratan kandang sapi perah :

  • penerangan yang cukup
  • cukup mendapatkan sinar matahari
  • ventilasi dan sirkulasi udara baik
  • sumber air mudah dijangkau
  • efektif dan efesien dalam penggunaan tenaga kerja
  • proses pembuangan feces dan kotoran lainnya, baik padat maupun cair dapat berlangsung dengan baik
  • lantai tidak licin dan tidak digenangi air
  • ukuran tepat, ternak leluasa bergerak
  • tempat pakan dan minum yang memadai
  • fasilitas jalan dan sarana prasarana mendukung
Kandang sapi perah yang bersih dan nyaman untuk optimalisasi fungsi fisiologis ternak

Kandang sapi perah yang bersih dan nyaman untuk optimalisasi fungsi fisiologis ternak

Pada pemeliharaan sapi perah, jika memungkinkan penempatan sapi dapat dikelompokkan berdasarkan produktivitasnya sehingga memudahkan dalam manajemen pemeliharaannya. Sapi yang sudah tidak produktif dapat diafkir segera agar tidak membebankan peternak dalam pembiayaan. Jika ternak terserang penyakit sebaiknya dipisahkan pada kandang isolasi agar tidak menular pada ternak lainnya. Segera laporkan kepada petugas medis/paramedis dari dinas/puskeswan jika tidak bisa menangani penyakit tersebut.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada September 25, 2013 in Uncategorized

 

Tag: , , , ,