RSS

Menimba Ilmu ke Baturraden (Part II) : Manajemen Pemeliharaan Sapi Perah

25 Sep

Kondisi persusuan di Indonesia saat ini masih sangat jauh dengan harapan pemerintah yang telah mencanangkan Swasembada Susu Tahun 2020. Hal ini terlihat dari kondisi di lapangan dimana sekitar 70% kebutuhan akan susu sapi masih dipenuhi dengan cara impor meski angka konsumsi susu perkapita masyarakat Indonesia yang hanya sebesar 10,47 kg per kapita per tahun.

Untuk mewujudkan cita-cita ini, banyak hal harus dilakukan dan salah satunya adalah dengan cara peningkatan populasi ternak sapi perah. Tersedianya bibit ternak berkualitas dalam jumlah yang cukup mudah diperoleh dan dijangkau serta terjamin kontinuitasnya adalah hal yang mesti terlaksana segera. Untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat kita terhadap susu, setidaknya populasi ternak mesti mencapai jumlah 2,3 juta ekor di tahun 2020 tersebut.

Bibit sapi perah sebagai calon induk penghasil susu untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat

Bibit sapi perah sebagai calon induk penghasil susu untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat

 Hal yang paling mendasar dalam manajemen pemeliharan sapi perah adalah membuat ternak merasa nyaman dan sehat sehingga produksi dan reproduksinya berjalan secara optimal. Agar dapat berhasil, peternak harus mempunyai hal-hal sebagai berikut : 

  • kesabaran dan rasa sayang terhadap ternak
  • kemauan dan ketekunan bekerja
  • pengetahuan tentang teknis pemeliharaan ternak
  • kemampuan untuk mengembangkan usaha

Keempat hal diatas merupakan kunci sukses yang harus ada dalam diri peternak dalam menjalankan usaha peternakan sapi perah selain bibit ternak dan manajemen pakan. Jika salah satu atau beberapa dari unsur tersebut tidak dipenuhi akan mengakibatkan kegagalan dalam usaha/usaha tidak dapat mendapatkan hasil yang optimal. Butuh kesabaran peternak untuk menunggu masa produksi/laktasi sapi karena ternak tersebut mesti bunting dan melahirkan terlebih dahulu. Karakterisitk sapi perah yang memiliki perasaan yang sensitif sehingga dengan adanya perubahan perlakuan kita terhadap ternak tersebut dapat mengakibatkan penurunan produksi susunya. Begitu juga dengan pengetahuan peternak tentang teknis pemeliharaan ternak perlu selalu ditingkatkan karena merekalah yang sehari-harinya berinteraksi dengan sapi. Bagaimana ciri-ciri ternak birahi, perubahan perilaku ternak, kondisi kesehatan ternak dan hal teknis lainnya mesti dimiliki oleh peternak. Usaha ternak sapi perah ini sebaiknya jangan dijadikan kegiatan sampingan karena untuk mencapai keberhasilan usaha ini butuh disiplin dan komitmen kuat dari pelakunya.

Kandang sapi perah type freestall di Farm Tegalsari

Kandang sapi perah type freestall di Farm Tegalsari

Beberapa hal yang penting diketahui pada tingkatan fase umur sapi perah betina adalah sebagai berikut :

  1. Pedet (lahir s.d 6 bulan) : penanganan pedet baru lahir, pencatatan (bobot dan pemberian identifikasi ternak), melatih pedet minum susu (pemberian kolostrum hingga umur 7 hari), pemberian pakan dan kesehatan pedet.
  2. Sapi dara ( umur >6 bulan s.d siap kawin) : pemeliharaan, pemberian pakan, pengukuran pertumbuhan, kesehatan.
  3. Sapi Dewasa : pemeliharaan, pakan, pengawasan birahi, pemeliharaan pada masa kebuntingan, laktasi, masa kering dan kelahiran.

Kandang merupakan bangunan yang digunakan untuk memberikan perlindungan dan kenyamanan kepada ternak terhadap hujan, radiasi matahari, derasnya aliran angin dan bahaya dari gangguan ternak lain sehingga proses fisiologis ternak dapat berlangsung secara optimal.

Beberapa persyaratan kandang sapi perah :

  • penerangan yang cukup
  • cukup mendapatkan sinar matahari
  • ventilasi dan sirkulasi udara baik
  • sumber air mudah dijangkau
  • efektif dan efesien dalam penggunaan tenaga kerja
  • proses pembuangan feces dan kotoran lainnya, baik padat maupun cair dapat berlangsung dengan baik
  • lantai tidak licin dan tidak digenangi air
  • ukuran tepat, ternak leluasa bergerak
  • tempat pakan dan minum yang memadai
  • fasilitas jalan dan sarana prasarana mendukung
Kandang sapi perah yang bersih dan nyaman untuk optimalisasi fungsi fisiologis ternak

Kandang sapi perah yang bersih dan nyaman untuk optimalisasi fungsi fisiologis ternak

Pada pemeliharaan sapi perah, jika memungkinkan penempatan sapi dapat dikelompokkan berdasarkan produktivitasnya sehingga memudahkan dalam manajemen pemeliharaannya. Sapi yang sudah tidak produktif dapat diafkir segera agar tidak membebankan peternak dalam pembiayaan. Jika ternak terserang penyakit sebaiknya dipisahkan pada kandang isolasi agar tidak menular pada ternak lainnya. Segera laporkan kepada petugas medis/paramedis dari dinas/puskeswan jika tidak bisa menangani penyakit tersebut.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada September 25, 2013 in Uncategorized

 

Tag: , , , ,

2 responses to “Menimba Ilmu ke Baturraden (Part II) : Manajemen Pemeliharaan Sapi Perah

  1. Susan

    Februari 5, 2014 at 4:26 pm

    Menarik banget ternak sapi perahnya, kandangnya bersih.

     
  2. Patrick

    Mei 15, 2014 at 9:18 pm

    Artikelnya bagus sekali broer, sangant bermanfaat buat kita-kita orang pemeliharaan.
    Warm Regards, Patrick.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: