RSS

MANAJEMEN KESEHATAN SAPI PERAH

12 Jun
1966296_750441175071823_2719154165268798778_o

Pentingnya manajemen kesehatan sapi perah yang intensif untuk menjamin kelangsungan usaha ini

Kesehatan ternak merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam manajemen pemeliharaan sapi perah, karena ternak yang sehat akan memiliki produktivitas (memberikan hasil) yang optimal. Upaya penanganan kesehatan pada ternak meliputi pencegahan, pengendalian, pengobatan dan rehabilitative (pemulihan). Manajemen kesehatan mempunyai arti penting karena meningkatkan hasil usaha (baik bibit maupun susu) sehingga dengan optimalisasi produktivitas akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak.Walaupun demikian factor kesehatan sangat terkait erat dengan manajemen pakan dan pola pemeliharaan. Terjadinya penyakit pada ternak (dalam hal ini sapi perah) sangat merugikan pemilik/peternak, karena akan mengakibatkan penurunan produksi, mengurangi kesempatan berreproduksi, menambah medical cost, resiko kematian ternak, bahkan penyakit-penyakit tertentu yang dapat menular pada ternak lain dan manusia. Pemilik ternak harus selalu memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi pada sapi yang dipelihara, dan segera melaporkan pada petugas kesehatan hewan terdekat. Di samping itu peternak juga harus memperhatikan kebersihan dan sanitasi, baik ternak, kandang maupun lingkungannya, karena kebersihan erat kaitannya dalam usaha pencegahan timbulnya penyakit pada sapi. Penyediaan pakan, air minum dan kolostrum (pedet) juga harus diperhatikan agar ternak tercukupi kebutuhan nutrisinya. Adanya catatan baik data reproduksi maupun kesehatannya sangat membantu petugas untuk melakukan kontrol dan mendiagnosa apabila terjadi gangguan kesehatan pada ternak/kelompok ternak. Untuk dapat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi pada sapi perah, terlebih dahulu kita harus tahu keadaan yang normal dari sapi yang sehat. Adapun tanda-tanda dari sapi perah yang sehat adalah sebagai berikut :

  • Mata agak basah dan bersinar
  • Cuping hidung selalu basah
  • Bulu halus mengkilat, kulit tidak terdapat luka-luka
  • Sapi berdiri tegak pada keempat kakinya.
  • Nafsu makan dan minum baik.
  • Tenang (tidak gelisah)
  • Kotoran agak lunak.

Apabila terjadi penyimpangan dari keadaan seperti tersebut di atas, maka peternak harus segera melaporkan kepada petugas kesehatan hewan terdekat agar dapat segera dilakukan penanganan / pengobatan.

10629532_682543405194934_3550429673673268461_o

UPTD Puskeswan Kota Padang Panjang

PENCEGAHAN PENYAKIT

1. Gerak Jalan (exercise)

Gerak jalan ini diperlukan untuk sapi minimal dua kali seminggu, dilakukan (1-2) jam (pagi hari). Bagi peternak yang memiliki padang penggembalaan ternak dapat dilepaskan di padang rumput, sedangkan bila tidak punya padang penggembalaan dapat dilakukan dengan cara yang lain misalnya dibuatkan tempat exercise dimana ternak dapat dengan bebas berjalan. Excercise ini sangat bermanfaat baik untuk anak sapi, sapi laktasi dan sapi bunting. Manfaat dari gerak jalan ini antara lain :

  • Sapi tetap bugar, sehat dan otot menjadi kuat
  • Sapi mendapatkan sinar matahari
  • Kuku sapi bisa terpelihara dengan baik. Dengan gerak jalan maka peredaran darah pada kuku sapi menjadi lancar, sehingga kwalitas daripada kuku meningkat baik bentuknya maupun kesehatannya.
  • Memperlancar waktu melahirkan. Untuk sapi-sapi yang digembalakan pada umumnya tidak banyak mengalami kesulitan di dalam melahirkan, hal ini dibandingkan dengan ternak sapi perah yang dikandangkan terus menerus.

2. Memotong Kuku Sapi

Kuku sapi merupakan bagian tubuh yang sangat penting, karena dipergunakan untuk menopang tubuhnya yang berat, untuk berjalan, mempertahankan diri dari serangan lawan, untuk mencari makan dan sebagainya. Apabila kuku dalam keadaan sakit, maka akan mengganggu pergerakan daripada sapi yang bersangkutan. Besar kecilnya gangguan bergantung derajat penyakit kukunya. Untuk menjaga agar kuku tetap baik diperlukan tatalaksana yang baik antara lain, ternak dan kandangnya dibersihkan. Usahakan lantai kandang dalam keadaan kering, pemberian makan dan minum yang baik, digembalakan dan diadakan pemeriksaan kuku secara rutin dan selan jutnya dengan pemotongan kuku. Pemotongan kuku biasanya dilakukan 6 (enam) bulan sekali. Pemotongan kuku dapat dilakukan dengan mudah dan aman, Caranya :

  • Sapi yang kukunya sudah panjang difiksir lebih dahulu pada kandang penjepit,
  • Kuku sapi dibersihkan dahulu dengan air yang bersih atau dicampur dengan desinfektan, Bagian-bagian kuku yang telah mati dibersihkan dahulu dengan pisau kuku.
  • Kuku yang panjang dipotong dulu sesuai yang diperlukan mula-mula bagian depan dan samping kuku kemu dian bagian bawah (sol) usahakan jangan sampai ter jadi pendarahan.
  • Setelah dipotong, dikikir agar lebih halus dan indah.Kemudian diolesi dengan yodium tinctur,

Untuk sapi yang menderita penyakit kuku dan sudah di obati harus ditempatkan pada lantai yang kering. Jika ada penyakit atau luka-luka kuku yang berat pada tapak kaki, segera lapor pada petugas.

3. Potong Tanduk / Dehorning

Potong tanduk sebaiknya dilakukan pada ternak muda menggunakan electric dehorner atau caustic soda untuk mencegah tumbuhnya tanduk. Caranya :

  • Persiapan bahan dan peralatan untuk proses dehorning (caustic soda jika dehorning menggunakan bahan kimia, gunting, vaselin)
  • Bulu disekitar calon tanduk harus terlebiha dahulu digunting dan dibersihkan
  • Kemudian bagian yang sudah dibersihkan diolesi vaselin, agar caustic soda yang dioleskan tidak mengalir ke bagian lain yang berbahaya (mata), Selanjutnya pada dasar calon tanduk itu digosok dengan caustic soda hingga muncul bintik bintik darah
  • Petugas yang melaksanakan dehorning di wajibkan memakai sarung tangan karet agar supaya tidak terkena bahan kimia yang merusak kulit

4. Menghilangkan Puting Susu tambahan

Puting susu yang lebih dari 4 buah, bisa menimbulkan gangguan pada ambing, misalnya untuk sapi yang telah dewasa bisa menimbulkan infeksi di dalam ambing . Cara pertama, oleh peternak berdasarkan petunjuk dari petugas memakai pengikat puting susu tambahan. Hal ini dilakukan ketika umur sapi masih muda. Puting susu tambahannya diikat dengan keras, pakai tali atau karet. Pengikat tersebut dibiarkan sampai puting itu menjadi busuk. Cara lain adalah memotong puting susu tambahan oleh petugas Kesehatan. Umur sapi jangan lebih dari enam bulan.

5. Perawatan Kebersihan Ternak dan sanitasi lingkungan

Untuk menjaga penyakit dan air susu yang dihasilkan bersih, maka sapi perah hendaknya disikat dan dimandikan setiap hari.

  • Rambut-rambut yang panjang pada sekitar ambing dan belakang harus digunting untuk mengurangi penempelan kotoran-kotoran yang dapat masuk kedalam air susu selama pemerahan.
  • Alat kandang harus sering dibersihkan juga peralatan-harus selalu bersih. Bagian-bagian kandang yang dibuat dari kayu/bambu harus dibersihkan dan dicuci dengan menggunakan alat serta bahan pencuci.
  • Sisa makanan dalam tempat makanan harus dibuang setiap hari dan tempat makananpun harus selalu dibersihkan,
  • Saluran pembuangan kotoran, airnya harus selalu lancar dan bersih, kalau bisa usahakan air saluran itu selalu mengalir.
  • Lingkungan untuk selalu bersih dan dilakukan desinfeksi

PENGECEKAN KESEHATAN SAPI

  1. Denyut nadi dapat dirasakan dengan meraba pembuluh nadi pada bagian bawah ekor secara perlahan-lahan dengan menggunakan tiga buah ujung jari. Denyut nadi normal adalah antara 40 – 60 denyut setiap menit. Denyutan lebih dari 90 itu berarti bahaya.
  2. Suhu Badan sapi dikontrol oleh peternak sendiri atau oleh pihak petugas hewan dengan menggunakan thermometer yang diletakkan di bagian pantat, dibawah ekor sapi. Ujung atau akhir termometer 2,5 cm menjolor keluar. Untuk mengetahui suhu, waktu minimal 3 menit. Suhu badan sapi yang normal adalah 57,8 sampai 38,9°C.
  3. Mata menjorok ke dalam atau buram atau merah, telinga dingin, kotoran atau kencing berdarah, kotoran atau air kencing agak berbau aneh atau bau amis, setelah makan tidak mengunyah dalam waktu 45 menit, semua ini merupakan tanda-tanda tidak normalnya organ (bagian tubuh sapi).

GANGGUAN KESEHATAN

Gangguan kesehatan pada sapi sering terjadi, baik diakibatkan oleh penyakit-penyakit karena virus, bakteri, protozoa, jamur maupun traumatic. Gangguan penyakit dapat menular dan tidak menular. Untuk mencegah gangguan kesehatan tersebut, kita harus selalu melaksanakan manajemen pemeliharaaan yang baik dan program vaksinasi oleh petugas kesehatan dari pemerintah. Beberapa gangguan kesehatan / penyakit yang sering terjadi diantaranya :

1. Pendarahan

Perdarahan dapat terjadi karena benturan/traumatik. Untuk mengatasi pendarahan, dapat menggunakan kain bersih yang telah dicelupkan dalam air panas. Kemudian kain tersebut ditempelkan pada tempat perdarahan, sambil ditekan dengan kuat dan darah yang keluar berkurang, jika perlu bagian yang luka tersebut dibalut. Apabila pendarahan terus menerus keluar, ini menandakan bahwa urat nadinya luka/rusak, maka segeralah panggil petugas hewan, untuk mendapatkan pertolongannya. Sebelum petugas datang, usahakan agar sapi tinggal diam dan di tenangkan.

2. Luka pada tubuh dan ambing

Bersihkan bulu-bulu disekitar tubuh yang luka dan kemudian dicuci dengan alcohol atau larutan garam (1 sendok garam dengan ½ liter air hangat). Luka pada puting susu, harus ditangani secara hati-hati dengan segera. Jika luka pada bagian dalam atau luka kena kotoran, segera panggil petugas hewan. Sebagai pertolongan pertama luka itu dapat diobati misalnya dengan iodine atau powder Sulphanilamid.

3. Luka pada kaki

Bersihkan kaki, buang bagian kuku yang menyelubungi bagian telapak kaki yang luka, mungkin diakibatkan batu atau paku yang melukainya, Jika benda-benda seperti batu, paku tadi telah dibuang atau dipotong maka bagian yang luka harus dihindarkan dari serangan kuman, dengan memberi/mengoleskan obat yodium, lalu kakinya dibalut agar tetap bersih.

4. Radang Kuku/Kuku busuk

Sering menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor. Tanda-tanda : mula – mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; kulit kuku mengelupas; tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; sapi pincang dan akhirnya bisa sulit berjalan/lumpuh. Pencegahan dan pengobatannya : dengan memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan rifanol selama 30 menit yang diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan kering;

5. Tersumbat makanan (Keselek, tersedak)

Carilah makanan yang menyumbat disepanjang kerongkongan itu dengan cara tangan kita menyelusuri sepanjang bagian bawah leher. Jika makanan yang menyumbat sudah teraba, maka urutlah kearah depan sampai ke tenggorokan. Kalau hal ini sulit dilakukan, panggilah petugas.

6. Perut Kembung

Perut kembung sering terjadi akibat kurang minum, pemberian rumput atau hijauan makanan ternak yang basah oleh embun atau oleh pemberian makanan penguat yang berjarak lama dengan pemberian rumput pada anak sapi. Pertolongan pertama, dapat dilakukan dengan pemberian minyak kelapa secukupnya, sampai sapi tersebut berak-berak, atau segera saja lapor kepada petugas untuk mendapatkan pertolongan/pengobatan.

7. Batuk

  • Bronchitis (kedinginan saluran pernapasan),ditandai dengan keluarnya ingus dari rongga hidung. Untuk mengatasinya dapat dengan memberikan/menutup lantai kandang dengan jerami atau rumput kering untuk menjaga agar ternak tetap merasa hangat. Bila terserang batuk-batuk usahakan untuk mengurangi memandikan ternak,
  • Infeksi Tubercullosis (TBC), gejalanya adalah batuk kering dan terlihat sakit waktu batuk, sapi menjadi kurus dan lemah. Karena itu lapor segera pada petugas kesehatan. Sapi harus dijauhkan dari ternak lainnya. Untuk mencegah terjangkitnya (TBC), maka setiap tahun sekali sapi harus di cek kesehatannya oleh petugas.Kutu dan Kudis

8. Kutu dan Kudis

Kebanyakan terjadi pada anak sapi usia muda, yang ditempatkan pada kandang yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan kurang mendapatkan makanan yang bergizi. Untuk membasmi kutu, taburilah leher, punggung, buntut dan sekeliling kepala bagian atas begitu juga telinga dengan obat anti kutu. Penyakit kudis adalah salah satu penyakit yang berbahaya. Kudis ini membuat kulit sapi gatal sekali, kulit menjadi kering, kasar, keriput dan kisut. Sapi yang sakit kudis sering menjadi kurus, dan hasil air susunya turun. Untuk menanggulangi kudis, basuh atau cucilah bagian tubuh yang terkena kudis tersebut dengan sabun, lalu dilap dengan perlahan-lahan untuk membuat kulit dan kemudian semprot dengan iodine. Jika kudis sudah meluas segera panggil petugas kesehatan

9. C a c i n g

Penyakit cacing ini sering terjangkit, diakibatkan oleh :

  • Keadaan kandang yang kotor dan becek.
  • Pemberian rumput yang berasal dari rawa tanpa di keringkan terlebih dahulu.

Penyakit cacing yang sering menyerang sapi, adalah penyakit cacing pita dan cacing hati. Penyebaran penyakit cacing ini sangat cepat sekali dari satu sapi ke sapi lainnya. Tanda-tanda yang dapat dilihat adalah :

  • Sapi kurus, tulang-tulangnya terlihat jelas.
  • Nafsu makan besar tetapi tetap kurus.
  • Perut kembung.
  • Mata sayu.
  • Kadang-kadang kotorannya mencret,

Pengobatan : Oleh peternak dapat menggunakan buah pinang yang di tumbuk atau dengan obat cacing dari petugas kesehatan hewan. Sebagai langkah pencegahan, sapi sebaiknya dibei pengobatan cacing secara rutin 6 bulan sekali (minta pada petugas kesehatan)

10. Mencret (Diarrhea)

Mencret yang tidak begitu parah mungkin disebabkan oleh kedinginan atau perubahan diet makanan, hal ini dapat sembuh dengan sendirinya. Yang dapat dilakukan peternak adalah memberikan cairan pengganti (elektrolit) untuk mencegah dehidrasi. Namun mencret yang kronis atau terus-menerus dan disertai keluar darah mungkin disebabkan oleh penyakit atau parasit, hal ini harus ditangani oleh petugas kesehatan hewan.

11. Nafsu makan hilang/tidak mau makan

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan sapi tidak mau makan, antara lain pemberian makanan yang berlebihan, pencernaan yang tak sempurna (gangguan alat pencernaan), atau makanan yang terlalu kotor, yang tak sedap baud dan rasanya. Jika perubahan makanan tidak memberi hasil yang baik, maka periksalah suhu badan sapi (oleh petugas kesehatan), mungkin sapi menderita demam sehubungan kedinginan atau menderita panas yang berlebihan pada ambingnya atau bagian tubuh lainnya. Atau akibat adanya benda asing (seperti paku atau kawat) di dalam perut keempat. Keadaan seperti ini memerlukan penanganan dan perawatan petugas kesehatan.

12. Penurunan Produksi air susu

Ada beberapa penyebab menurunnya produksi susu sapi diantaranya :

  1. Akibat dari makanan yang tidak cocok, atau makan jenis makanan tertentu secara berlebihan, atau perubahan diet makanan yang terlalu mendadak atau cepat. Perubahan diet harus dilakukan secara bertahap dengan jarak kira-kira enam hari.
  2. Sapi sedang birahi, stress
  3. Cuaca/musim

Beberapa penyakit dapat mengakibatkan berkurangnya produksi susu. Jika merasa ragu-ragu, lapor pada petugas kesehatan untuk penanggulangannya dengan segera tanpa ditunda-tunda.

13. Mastitis (Radang ambing)

Mastitis terjadi dalam bentuk yang ringan atau berat. Mastitis dalam bentuk yang ringan dapat dilihat dari bintik-bintik kecil bila susu yang pertama keluar dari perahan yang pertama yaitu serempatnya diarahkan pada mangkuk bergaris yang dihitamkan (ditandai) atau pada cangkir yang ditutup kain hitam. Penanggulangan mastitis ringan adalah :

  • Sapi yang menderita mastitis (puting yang terserang mastitis) harus lebih sering diperah, empat-enam kali perhari, dengan benar.
  • Lakukan dipping putting secara tepat dan benar
  • Segera lapor pada petugas untuk mendapatkan pertolongan.

Dianjurkan supaya susu yang mastitis dibuang, jangan diberikan pedet kembali, jika kualitas susu belum begitu banyak perubahannya. Susu tersebut tidak boleh dijual atau dicampur dengan air susu yang lain. Segera setelah melakukan pemerahan peternak mencuci tangan dan ember serta lap yang digunakan dengan air panas daa sabun serta tepol. Itulah salah satu jalan untuk mencegah penyebaran penyakit, sapi yang lainnya.

Untuk sapi penderita Mastitis yang gawat:  Susu yang pertama kali keluar menyerupai nanah dan yang seperti empat bagian lagi kelihatan keaerahan dan panas serta agak keras. Hal seperti ini harus ditangani oleh petugas kesehatan

14. Kelumpuhan / Ambruk

Penyakit yang sering menyerang sapi perah dan sangat merugikan adalah bila terjadi kelumpuhan setelah melahirkan. Kelumpuhan ini sering terjadi akibat sapi yang akan melahirkan kekurangan tenaga, vitamin atau kalsium. Kelumpuhan ini sering terjadi pada kelahiran ke dua dan seterusnya untuk sapi-sapi yang produksinya tinggi.

Pencegahan : Sapi-sapi yang sudah bunting tua 2 minggu lagi akan melahirkan harus diberi kalsium/mineral yang dicampurkan pada penguat, diberi pakan penguat yang jumlahnya hampir sama dengan sapi yang sedang diperah. Kemudian dua sampai tiga hari sebelum melahirkan diberi gula merah untuk menambah tenaga.

Pengobatan : Segera lapor pada petugas untuk mendapatkan pengobatan dengan segera. Sambil menunggu petugas datang sapi yang lumpuh harus dibolak-balik kedudukannya.

15. Penyakit Anthraks

Penyebab anthraks adalah Bacillus anthracis, yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan. Tanda-tanda penyakit antraks yaitu : Pada umumnya ternak mati secara mendadak (berakut) tanpa didahului gejala klinis yang nyata dan biasanya diikuti dengan keluarnya darah yang berwarna hitam dari lubang tubuh. Apabila sempat muncul gejala khusus secara cepat biasanya berupa demam tinggi, badan lemah dan gemetar; gangguan pernafasan; pembengkaan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; limpa bengkak dan berwarna kehitaman.

Pencegahan dan pengendalian : Dapat dilakukan dengan vaksinasi, pengobatan antibiotik, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta ternak yang mati ( bangkai ) karena antraks dilarang keras dibuka ( bedah bangkai) serta harus segera mengubur/membakar sapi yang mati

Pengobatan : Segera lapor pada petugas untuk mendapatkan pengobatan dengan segera. Sambil menunggu petugas datang sapi yang diduga dilakukan pemisahan

16. Gugur menular / Keluron

Kasus gugur menular / keluron terjadi karena adanya bakteri brucella abortus. Gejalanya banyak terjadi keguguran (biasanya umur 5-8 bulan kebuntingan) dan cepat penularannya.

Pencegahan dan Penanganan : Hendaknya pisahkan ternak yang sakit dan segera memanggil petugas kesehatan hewan, dan dengan pemeriksaan sampel darah atau air susu di laboratorium dapat menunjukkan adanya kasus Brucellosis. Untuk mencegah sapi dari hal itu, saat ini sudah ada program vaksinasi, lakukan pengecekan darah secara berkala, dan harus disertai sanitasi kandang yang baik.

17. Penyakit Ngorok (SE)

Penyakit Ngorok penyebabnya adalah bakteri Pasteurella multocida dengan penularannya melalui makanan dan minuman tercemar bakteri. Tanda – tanda penyakit ngorok yaitu kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah kebiruan, leher, anus, dan vulva membengkak paru -paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua. Apabila dilakukan bedah bangkai, maka demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12 – 36 jam.

Pencegahan dan pengendaliannya : dengan vaksinasi anti SE dan diberi antibiotik (misalnya gol. Sulfa).

Pengobatan : Segera lapor pada petugas untuk mendapatkan pengobatan dengan segera. Sambil menunggu petugas datang sapi yang diduga dilakukan pemisahan

18. Penyakit Mulut dan Kuku

Tanda-tanda sapi yang terkena penyakit ini :

  1. Melepuh pada bagian lidah, gusi, puting susu dan di dalam kuku sumbing.
  2. Air liur keluar berlebihan,
  3. Hilangnya selera makan.
  4. Produksi air susu turun sekali.

Penyebaran penyakit ini cukup cepat, karena dapat menjalar dengan mudah bila terjadi kontak antara hewan yang terkena dengan hewan lainnya. Peternak hendaknya segera lapor kepada petugas, kalau sapi kepunyaannya ada yang terkena PMK. Sapi yang sakit PMK, sulit untuk diobati, agar tidak menjalar kepada sapi yang lain, cara mengatasinya, dengan dilakukan mematikan ternak tersebut dan kemudian membakarnya sampai menjadi abu. Daerah terkena PMK ditutup dengan cara menisolasi dari kontak hubungan antara hewan dari daerah tersebut dengan daerah lainnya.

Pencegahan PMK : Ternak yang sehat di vaksinasi. Vaksin mulai diberikan kepada sapi berumur 3 bulan atau lebih.

(Sumber : Materi Bimtek Manajemen Sapi Perah BBPTU-HPT Baturraden)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 12, 2015 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: